Jumat, 24 Desember 2010

Melestarikan Budaya Gayo Yang Nyaris Punah


1. Didong Gayo


2. tari guel


3. saman gayo


4. tari bines



Sebelum kita menganalisa budaya gayo yang saat ini yang sudah bisa kita katakan sebagian besar punah, mari kita lihat dahulu gambar-gambar di atas, yang sebagian kecil adalah budaya seni gayo. Seni Budaya gayo di atas sudah bisa kita katakan sebagai seni budaya yang hampir punah, alasannya adalah karena seni budaya di atas sudah jarang terlihat pada acara-acara pesta resmi, maupun acara-acara yang non resmi yang ada di Aceh Tengah sendiri, yang merupakan daerah asal seni budaya ini.

Kita bisa melihat betapa banyaknya pada saat ini orang-orang lain yang selain suku gayo sendiri yang melecehkan seni budaya gayo seperti saman, hal ini bisa kita lihat di blog http://www.lovegayo.com/?p=1165. Ini adalah sekelumit lecehan kepada kita atas kebudayaan seni budaya saman kita, kita belum lagi melihat hal-hal yang lain yang belum atau mungkin tidak kita temui, yang semuanya adalah menjadikan budaya kita semakin tidak terlihat.

  1. Didong Gayo
  • Sejarah Didong Gayo
Menurut Ismuha, (13/17), Kabid Kebudayaan PemKab Bener Meriah didong di mulai sejak Reje Linge ke-13. Untuk membaca lebih dalam tentang Sejarah Didong Gayo, klik http://kenigayo.wordpress.com.
  • Perkembangan Kesenian didong
Di dalam perkembangan Kesenian didong, mempunyai perkembangan dalam fase-fase tertentu;
  1. Fase Reje Linge ke - 13. Dalam fase ini, didong baru di mulai di tempat-tempat rumah warga di sekitar kerajaan Reje Linge XIII pada acara pesta-pesta warga, misalnya saja pada acara pesta pernikahan, khitanan, dan acara-acara pesta lainnya yang lingkupnya adalah warga setempat. Selain dalam acara tersebut, ada juga kesenian didong pada acara peresmian tempat, atau juga pada acara syukuran warga, baik itu syukuran pertanian, maupun syukuran yang lain.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar